BBPOM di Jayapura Bekali Ratusan Siswa SPPI dengan Materi Strategis Pengawasan Pangan

01-07-2025 Jayapura Dilihat 348 kali

Jayapura – Dalam rangka mendukung penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia di bidang pengawasan pangan, Balai Besar POM di Jayapura mengambil peran strategis melalui keterlibatannya dalam kegiatan Diklat Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Batch 3 yang berlangsung di Rindam XVII/Cenderawasih, Jayapura, pada 27 dan 30 Juni 2025.

Sebanyak 40 instruktur dari BBPOM di Jayapura diterjunkan langsung untuk memberikan empat materi utama terkait pengawasan pangan kepada 531 siswa SPPI, yang terdiri dari 277 laki-laki dan 254 perempuan. Para peserta dibagi dalam beberapa kelas agar proses belajar berlangsung efektif dan mendorong partisipasi aktif dalam diskusi.

Adapun empat materi pokok yang disampaikan dirancang untuk membekali siswa SPPI dengan pengetahuan dan keterampilan dasar guna mengawal suksesnya program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang dicanangkan Pemerintah Indonesia, yaitu:

  1. Informasi Nilai Gizi (ING): Memberikan pemahaman menyeluruh tentang pentingnya kandungan gizi pada pangan olahan agar siswa mampu menganalisis kebutuhan gizi dasar, khususnya untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak dalam program MBG.

  2. Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP): Membekali siswa dengan konsep dan praktik sistem keamanan pangan berbasis risiko, agar mereka dapat mengenali titik-titik kritis dalam pengolahan makanan dan mencegah kontaminasi pangan yang dapat menggagalkan tujuan MBG.

  3. Traceability: Mengajarkan kemampuan melacak asal-usul bahan pangan hingga distribusi akhir, guna menjamin keterlacakan produk bergizi yang aman dan memenuhi standar dalam rantai pasok program MBG.

  4. Pengawasan Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan (KLB KP): Melatih kepekaan dan kesiapsiagaan siswa dalam mendeteksi serta merespons cepat kejadian keracunan pangan, demi memastikan keberlangsungan konsumsi makanan bergizi yang aman di masyarakat.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan konsep pengawasan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Badan POM dalam membentuk karakter siswa SPPI yang adaptif, responsif, dan kompeten secara teknis. Metode pembelajaran interaktif seperti Problem-Based Learning (PBL) diterapkan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan berpikir kritis para peserta.

Kepala Balai Besar POM di Jayapura, Hermanto, menyampaikan bahwa keterlibatan BBPOM di Jayapura dalam SPPI merupakan bentuk nyata kontribusi BPOM dalam memperluas literasi pengawasan obat dan makanan sejak dini. “Kami ingin menanamkan bahwa siswa SPPI bukan sekadar peserta pelatihan, tetapi calon penggerak di lapangan yang siap memastikan anak-anak, sebagai target utama program MBG, benar-benar mendapatkan gizi yang mereka butuhkan. Peran mereka sangat krusial dalam mewujudkan generasi sehat dan kuat menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Hermanto juga menekankan pentingnya pemahaman siswa terhadap materi KLB Keracunan Pangan. “Salah satu ancaman nyata dalam program MBG adalah kejadian keracunan massal. Siswa SPPI harus siap menjadi pelapor pertama dan penggerak tanggap darurat di lapangan. Pemahaman ini bukan hanya teori, tapi bisa menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

Salah satu instruktur, Engelberth, yang membawakan materi traceability, menyampaikan kesannya selama mengajar. “Materi traceability cukup kompleks, sehingga saya perlu memilih pendekatan komunikasi yang tepat sesuai karakter siswa. Saya berupaya menjaga antusiasme kelas dengan metode partisipatif, bahasa yang disederhanakan, dan evaluasi respons siswa secara langsung. Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam menerapkan kemampuan teknis sekaligus membangun ketertarikan siswa terhadap isu keamanan pangan,” ungkapnya.

Seluruh rangkaian kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses berkat kerja sama yang apik antara BBPOM di Jayapura dan Koordinator Manajerial Kolat XV Rindam XVII/Cenderawasih. Sinergi ini menjadi fondasi penting dalam memastikan pelaksanaan kegiatan berlangsung tertib, kondusif, dan sesuai dengan tujuan pembinaan generasi muda dalam bidang pengawasan pangan.

 

Sarana